Eksodus terakhir
Judul : Eksodus Terakhir: Kapsul Chronos-7
Tahun 2348. Bumi adalah kuburan biru-cokelat. Atmosfernya terkikis habis oleh Great Solar Flare satu abad yang lalu. Umat manusia hanya bertahan di bawah tanah, di kota-kota terowongan yang suram. Kapten Anya Sharma berdiri di depan jendela kaca yang sangat tebal, menatap langit malam yang tak lagi dihiasi cahaya bulan, tetapi oleh sisa-sisa reruntuhan stasiun ruang angkasa yang sangat lama.
Misi yang di jalankan oleh Anya adalah misi terakhir. Tidak ada lagi sumber daya untuk menjaga populasi bawah tanah yang tersisa. Proyek Chronos adalah pertaruhan terakhir: sebuah kapal tunggal, Chronos-7, berisi 10.000 embrio manusia yang dibekukan, diawaki oleh satu orang. Tujuannya: Exo-Terra Nova, sebuah planet yang baru ditemukan, 40 tahun cahaya dari Bumi.
"Lapor terakhir, Kapten," suara Jenderal Khan yang berkarat muncul dari comm-link Anya.
"Semua sistem hijau, Jenderal. Konsumsi bahan bakar stabil, unit kriogenik beroperasi sempurna. Saya sudah memuat data warisan. Musik, seni, sejarah... semua yang kita miliki."
"Kau tahu, Anya, kau bukan hanya seorang kapten," ujar Khan, nadanya meredup. "Kau adalah perpustakaan, kau adalah benih. Kau adalah ingatan terakhir dari planet ini."
Anya menarik napas. Dia sudah membuang nama 'Bumi' dari pikirannya. mengigat nama ' Bumi ' Itu hanya akan menambah beban emosional. Tugas yang di jalankan sekarang adalah untuk masa depan.
Anya mengambil tempat duduk di kokpit yang sempit. Panel kontrol penuh dengan layar holografik yang berkedip-kedip, menampilkan status kehidupan statis di belakangnya—sepuluh ribu tabung mimpi beku.
"Memulai urutan peluncuran. Mode otomatis non-aktif. Saya akan menerbangkannya secara manual melewati puing-puing orbital," gumam Anya pada dirinya sendiri.
terdengar bunyi klak keras menandakan penguncian mekanisme pelepasan. Mesin- mesin ion kapal mulai berdengung dengan kekuatan yang luar biasa. Guncangan dahsyat mendorong Anya ke kursinya saat Chronos-7 mulai naik dari fasilitas peluncuran bawah tanah.
Melewati atmosfer yang tipis adalah pengalaman yang brutal. Dia harus menghindari ribuan keping satelit mati dan pecahan perisai pelindung yang gagal. Saat dia akhirnya lolos, terlihat Bumi tampak di bawahnya, terdapat sebuah permata yang rusak.
Sesaat sebelum anya mengaktifkan mesin warp FTL (Faster Than Light), sebuah notifikasi darurat berkedip di panelnya terdapat Sinyal asing Dideteksi prioritas merah
Anya melihat itu membeku. Bukan Bumi. Bukan puing-puing. Itu adalah sinyal terstruktur yang datang dari arah Proxima Centauri—hanya empat tahun cahaya jauhnya.
Itu adalah data: peta bintang, pola frekuensi, dan yang paling mengejutkan, sebuah gambar sederhana: sketsa sebuah planet biru yang utuh, mirip Bumi di masa jayanya, disampingnya ada simbol geometri yang menyerupai tangan terbuka.
Pesan itu jelas: "Jangan pergi sejauh itu. Kami sudah menunggu."
Chronos-7 sudah siap melompat 40 tahun cahaya. Namun, di depannya terhampar petunjuk menuju sebuah harapan yang jauh lebih dekat, sebuah kesempatan kedua yang tak terduga.
Anya mematikan urutan warp otomatis. Tangannya bergerak ke kontrol navigasi manual, mengubah koordinat dari Exo-Terra Nova ke Proxima Centauri-b. Kapal tunggal itu berbalik, membawa warisan kemanusiaan menuju sinyal tak terduga yang menawarkan peluang untuk sebuah awal yang baru.
"Chronos-7, menuju harapan yang tidak dikenal," bisiknya, sebelum menyalakan mesinnya menuju bintang terdekat.
Komentar
Posting Komentar